Pemerintahan ● 10 Juni 2025 ● Dibuat oleh admin
Gresik, 10 Juni 2025 — Pemerintah Kabupaten Gresik kembali menunjukkan komitmen kuat dalam upaya percepatan penurunan angka stunting melalui berbagai program dan inovasi terintegrasi. Komitmen ini ditegaskan dalam kegiatan Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi Kabupaten/Kota se-Jawa Timur yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Selasa (10/6), secara hybrid dengan diikuti oleh seluruh Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.
Dalam forum tahunan tersebut, Pemkab Gresik memaparkan capaian dan strategi yang telah ditempuh selama tahun 2024, termasuk penurunan angka prevalensi stunting yang kini tercatat sebesar 15,2%, menurun 0,2% dari tahun sebelumnya.
Seketaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani stunting.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah. Sinergi dengan berbagai stakeholder sangat dibutuhkan, mulai dari perangkat daerah, mitra pembangunan, hingga sektor swasta,” tegasnya.
Menjawab tantangan tersebut, Pemkab Gresik hadir dengan delapan aksi konvergensi sebagai pendekatan komprehensif dalam percepatan penurunan stunting. Aksi-aksi tersebut mencakup:
1. Analisis Situasi: Penetapan 19 desa/kelurahan di 7 kecamatan sebagai lokus stunting 2024.
2. Penyusunan Rencana Kegiatan: Peningkatan alokasi anggaran hingga Rp332 miliar.
3. Rembuk Stunting: Forum evaluasi dan perencanaan bersama pemangku kepentingan.
4. Dukungan Regulasi: Penguatan kebijakan melalui Perbup No. 9 Tahun 2023.
5. Pembinaan Pelaku di Desa: Pelatihan kader dan pendamping desa.
6. Pengelolaan Data: Optimalisasi aplikasi SIGA, EPPBGM, web monitoring Bina Bangda, serta platform Gresik Urus Stunting (GUS).
7. Publikasi Data: Transparansi informasi dengan membuka akses publik terhadap data stunting.
8. Review Kinerja: Evaluasi dan tindak lanjut rutin terhadap implementasi program.
Tak hanya itu, Pemkab Gresik juga melaksanakan kegiatan tematik seperti audit kasus stunting, minilokakarya, Pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta pemantauan data Keluarga Risiko Stunting (KRS) dan keluarga berencana. Seluruh upaya ini didukung oleh pendekatan pentahelix yang melibatkan sektor swasta melalui CSR, akademisi, masyarakat, dan media.
Salah satu inovasi digital unggulan yang turut dipresentasikan dalam forum ini adalah aplikasi GUS (Gresik Urus Stunting) dan Detak Keris (Deteksi, Tanggulangi, Kurangi Keluarga Resiko Stunting), sebuah platform yang berfungsi untuk pencagahan dan penanganan stunting secara terintegrasi di tingkat kabupaten.
Upaya dalam lima tahun mendatang akan terus memperkuat intervensi spesifik dan sensitif secara serentak, sesuai komitmen Pemkab Gresik dalam program prioritas Nawakarsa “Gresik Sehati”. Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Pemkab Gresik menegaskan visinya untuk menjadikan Gresik sebagai kabupaten yang bebas stunting secepat mungkin.