Ekonomi ● 8 April 2025 ● Dibuat oleh admin
Gresik – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik mencatat inflasi bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) sebesar 1,77% pada Maret 2025. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga menjelang Ramadan dan Lebaran, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 106,36 naik dari 104,45 pada Februari 2025. Sementara itu, inflasi tahun ke tahun (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 0,81%, lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang mencapai 2,81%.
Inflasi bulan ini didorong oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran, terutama:
• Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga: inflasi 7,25% dengan andil 0,83%, didorong oleh berakhirnya diskon tarif listrik PLN.
• Makanan, minuman, dan tembakau: inflasi 2,02% dengan andil 0,68%, termasuk komoditas seperti bawang merah dan cabai rawit.
• Kesehatan: inflasi 7,19% dengan andil 0,19%, disebabkan oleh penyesuaian tarif layanan RSUD Ibnu Sina.
Di sisi lain, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah:
• Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga: deflasi -0,09%
• Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan: deflasi -0,10%
• Rekreasi, olahraga, dan budaya: deflasi mendekati nol (~0)
Kepala BPS Kabupaten Gresik, Ir. Indriya Purwaningsih, MT, menyampaikan bahwa inflasi ini menunjukkan tekanan harga akibat momentum musiman dan penyesuaian kebijakan.
“Inflasi sebesar 1,77% pada Maret 2025 dipengaruhi oleh faktor musiman, khususnya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional. Kami mengimbau masyarakat tetap bijak dalam berbelanja dan pemerintah daerah menjaga ketersediaan pasokan pangan,” ujarnya.
Untuk inflasi tahunan (y-on-y), penyumbang inflasi terbesar adalah:
• Makanan, minuman, dan tembakau: inflasi 1,74% (andil 0,59%)
• Kesehatan: 8,09% (andil 0,22%)
• Pendidikan: 2,55% (andil 0,21%)
Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi tahunan adalah:
• Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga: -5,45% (andil -0,70%), disebabkan oleh turunnya tarif listrik pasca subsidi.
Komoditas penyumbang inflasi tertinggi secara y-on-y adalah bawang merah (0,31%), cabai rawit (0,27%), dan emas perhiasan (0,12%). Sebaliknya, tarif listrik menyumbang deflasi sebesar -0,80%.
Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Gresik pada Maret 2025 turun sebesar 0,67% menjadi 101,16, dipengaruhi oleh penurunan indeks harga yang diterima petani dan kenaikan indeks harga yang dibayar petani. Subsektor tanaman pangan menjadi kontributor utama penurunan ini, terutama karena turunnya harga gabah.
BPS juga mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Timur melalui Bandara Internasional Juanda sebanyak 15.902 kunjungan pada Februari 2025, meningkat 20,13% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini didominasi oleh wisatawan asal Malaysia, Tiongkok, dan Singapura.
BPS Gresik menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan kebutuhan pokok guna mendukung ketahanan ekonomi daerah. (Ysm)